by woy16

Halaman

Arsip Blog

SHALAT SESUAI TUNTUNAN NABI SAW : SHALAT (Dzikir dan Do’a setelah Shalat)

 

SHALAT SESUAI TUNTUNAN NABI SAW

(Mengupas Kontroversi Hadits sekitar Shalat) 

 Karya : Syakir Jamaluddin, M.A

Revisi ke-2

  

BAB III

SHALAT

  

H.     Dzikir dan Do’a setelah Shalat

Selesai shalat, disunnahkan untuk duduk sejenak sambil melafalkan istighfar yakni permohonan ampun dengan do’a: أَسْتَغْفِرُ اللَّهََ: (3 kali, tanpa tambahan al-adzim): “hamba mohon ampun pada Allah” (HSR. Muslim, Ahmad, dll dari Tsauban), atau bisa juga memilih bacaan istighfar yang lebih panjang:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهََ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه

Artinya: “Hamba mohon ampun pada Allah dzat yang tidak ada Tuhan selain Dia yang hidup, yang senantiasa mengurus makhluk-Nya, dan hamba bertaubat kepada-Nya.” (HHR. Abu Dawud, At-tirmidzi, Al-Hakim, boleh dibaca hingga 3x).

Setelah istighfar, dituntunkan membaca:

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Artinta: “Ya Allah Engkau maha Sejahtera, Engkaulah sumber kesejahteraan, Engkau Maha Memberkahi wahai yang Empunya keagungan dan kemuliaan.” (Hsr. Muslim, Ahmad, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, dari Tsauban. Tidak perlu menyiisipkan do’a setelah wa-minkassalam:وَاِالَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامِ: apalagi hingga menambahkan :وَأَدْخِلْنَا اْلجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ: karena tidak ada sumber haditsnya).

Kemudian membaca Subhanallah sebanyak 33x, Al-hamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x (atau 34x), dihitung dengan jari tangan kanan (بِالْاَنَامِلِ:HHR. Abu Dawud), dan disempurnakan dengan tahlil 1x sehingga genap menjadi 100 dengan membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kepunyaan-Nyalah segala kekuasaan dan pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Setelah itu langsung membaca:

اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Artinya: “Ya Allah, tidak ada yang mampu mencegah pada apa yang Engkau beri,  dan tidak ada yang mampu memberi pada apa yang Engkau cegah, dan tidak bermanfaat yang memiliki (harta dan usaha) apapun bagimu.” (Muttafaq ‘Alaih).

Termasuk dzikir yang disunnahkan  dan disebut Nabi SAW sebagai salah satu perbendaharaan surga adalah : لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ: “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya pada Allah” (Muttafaq ‘Alaih, dari Abu Musa). Dzikir ini baik bila dirangkaikan dengan  kalimat tahlil sebagaimana yang dilakukanAbdullah bin Al-Zubair dan disandarkan kepada Rasulullah SAW:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kepunyaan-Nyalah segala kekuasaan dan pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya pada Allah. Tidak ada Tuhan selain Allah, dan kami tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya. Milik-Nyalah segala nikmat, keutamaan, serta segala pujian yang baik. Tidak ada Tuhan selain Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama walaupun orang-orang kafir membencinya.”

Disunnahkan juga membaca ayat/surat dalam Al-Qur’an, antara lain: ayat Al-Kursi (HHR. An-Nasa’i, Ath-Thabrani), Al-Mu’awiwidzat yakni QS. Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Bas (HSR. An-Nasa’i, Ahmad).

Hakikat dzikir adalah mengingat Kemahasucian, Kemahapujian, dan Kemahabesaran Allah dengan menyebut nama-Nya dan menghadirkan-Nya dalam jiwa. Oleh karenanya, dalam berdzikir hendaklah menghayati betul lafal-lafal wirid dengan merendahkan diri, khusyu’ karena takut, tak perlu terburu-buru, dan tidak perlu bersuara keras. Sebagai imam, Nabi SAW memang pernah mengeraskan bacaan dzikir/tahlil dan do’anya untuk mengajarkan kepada para sahabat tentang apa yang dibaca setelah shalat, tapi secara umum beliau tidak mengeraskannya karena Allah SWT berfirman:

وَٱذْكُر رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ ٱلْجَهْرِ مِنَ ٱلْقَوْلِ ......

Artinya: “Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara.....” (QS. Al-A’raf/7:205)

Setelah itu berdo’alah sesuai dengan keinginan baik kita, tapi dengan cara yang sesuai dengan tuntunan. Diantara adab berdo’a adalah:

1.    Berdo’alah dengan ikhlas dan awali dengan memuji Allah SWT dan shalawat atas Nabi SAW.

...... فَادْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَۗ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

Artinya: “.....Berdo’alah kepada-Nya dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Mu’min/40:65)

Ketika Nabi SAW mendengar seseorang berdo’a didalam shalatnya tanpa diawali dengan memuji Allah dan shalawat Nabi maka beliau bersabda:

اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيْدِ رَبِّهِ جَلَّ وَ عَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُوْ بَعْدُ بِمَا شَاءَ

Artinya: “Apabila salah seoarang kamu berdo’a maka mulailah dengan memuji Allah Yang Maha Mulia, Maha Perkasa, dan segala pujian atas-Nya, kemudian bershalawat atas Nabi SAW lalu berdo’a setelahnya sesuai dengan yang ia kehendaki.” (HSR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ahmad, dll, dari Fadhalah bin Ubaid ra).

Salah satu do’a Nabi SAW setelah shalat:رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ: “Ya Tuhanku, jagalah aku dari azab-Mu pada hari Engkau bangkitkan hamba-hamba-Mu.” (HSR. Muslim 2/153, At-Tirmidzi, Abu Dawud).

Meskipun do’a yang paling baik adalah do’a yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun dalam hal isi do’a setelah shalat, selama inti do’anya baik, maka kita diperkenankan untuk berdo’a sekehendak kita, sesuai dengan kebutuhan kita, dan boleh menggunakan bahasa yang kita mengerti.

2.    Berdo’a dengan merendahkan diri dan dengan suara lembut tanpa perlu dikeraskan karena Allah tidak suka dengan orang yang melampaui batas. Sebab Allah SWT berfirman:

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةًۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ

Artinya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf/7:55)

Atau berdo’alah dengan menyebut nama-nama Allah yang indah (. QS. 7;180 & 17:110) dan dengan suara sedang:

...... وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا

Artinya: “Janganlah engkau mengeraskan (bacaan) salatmu dan janganlah (pula) merendahkannya. Usahakan jalan (tengah) di antara (kedua)-nya!.” (QS. Al-Isra’/17:110)

3.    Bersihkan jiwa lebih dahulu dengan menjauhi segala perbuatan dosa dan merusak, tebarkan kebaikan, kemudian berdo’alah dengan serius dan penuh harap (optimis).

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf/7:56)

Yakinlah bahwa selama beriman dan beramala shalih (misal: banyak sedekah dan berbuat baik), pasti akan dikabulkan Allah SWT (QS. 2:186) atau bahkan diganti dengan yang lebih baik dari yang diminta.

وَيَسْتَجِيْبُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَيَزِيْدُهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ .......

Artinya: “memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya…….” (QS. Asy-Syura/42:26).

4.    Dalam berdo’a, harus sabar, tidak boleh marah dan mendesakkan do’a.

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوْتِۘ اِذْ نَادٰى وَهُوَ مَكْظُوْمٌۗ

Artinya: “Oleh karena itu, bersabarlah (Nabi Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu dan janganlah seperti orang yang berada dalam (perut) ikan (Yunus) ketika dia berdoa dengan hati sedih.” (QS. Al-Qalam/68:48)

5.    Akhiri do’a kita dengan do’a sapu jagad (QS. Al-Baqarah/2:201) dan permohonan agar do’a dan pertaubatan kita dikabulkan Allah SWT (QS. 2:127-128), lalu bertasbih dan memuji Allah dengan ucapan : وَاٰخِرُ دَعْوٰىهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَࣖ (QS. Yunus/10:10)

Jika sesorang bisa menghayati secara keseluruhan bacaan dzikir dan do’a yang dimohonkannya kepada Allah baik itu dalam shalat maupun diluar shalat, maka shalatnya akan berpengaruh positif terhadap seluruh hidup dan kehidupannya.

 

Di tulis ulang oleh : Khudhori 

 

BACA JUGA :

SHALAT (Sujud Sahwi dan Sujud Tilawah)

SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 10/Salam) 

SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 9)

SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 8)  

SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 7) 

SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 6)

SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 5)

SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 4)

SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 3)

SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 2) 

SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 1) 

SHALAT (Adzan dan Iqamah) 

SHALAT (Syarat Sahnya Shalat : 3) 

SHALAT (Syarat Sahnya Shalat : 2)

SHALAT (Syarat Sahnya Shalat : 1) 

SHALAT (Fungsi dan Hikmah Shalat) 

SHALAT (Hukum Meninggalkan Shalat) 

SHALAT (Arti dan Kedudukan Shalat) 

Tayammum 

Mandi 

Mengusap kedua khuf 

Pengertian dan Pembagian Ibadah 

Falsafah Ibadah 

Prinsip-prinsip Ibadah bagian 1 

Prinsip-prinsip Ibadah bagian 2 

Pengertian Thaharah 

Alat Bersuci 

Najis dan Hadats 

Wudlu 

Hal-hal yang Membatalkan Wudlu 

📚 Daftar Postingan