SHALAT SESUAI TUNTUNAN NABI SAW
(Mengupas Kontroversi Hadits sekitar Shalat)
Karya : Syakir Jamaluddin, M.A
Revisi ke-2
BAB I
PENGANTAR IBADAH
D. Prinsip-prinsip Ibadah
Untuk memberikan pedoman ibadah yang bersifat final, Islam memberikan prinsip-prinsip ibadah2 sebagai berikut:
1. Prinsip utama dalam ibadah adalah hanya menyembah kepada Allah semata sebagai wujud hanya mengesakan Allah SWT (al-tawhîd bi-llâh). Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT:
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ
“Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami minta pertolongan.” (QS. Al-Fâtihah/1: 5)
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا ....
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan- nya dengan sesuatu apapun…” (QS. Al-Nisâ’/4: 36)
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ .....
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah dan jauhilah Thagut…”(QS. Al-Nahl/16: 36)
Lawan tauhid adalah syirik (mempersekutukan Allah) yang merupakan dosa terbesar di antara dosa- dosa besar (QS. Luqman/31: 13 dan HR. Al-Bukhari- Muslim, dari Abu Bakrah) sehingga Allah tidak akan mengampuninya (QS. Al-Nisa’/4: 48, 116) kecuali jika bertobat.
2. Ibadah tanpa perantara. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT:
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Sesungguhnya Aku sangatlah dekat.”Aku kabulkan permohonan (do`a) orang yang berdo`a apabila ia memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu mendapat bimbingan.” (QS. Al- Baqarah/2: 186)
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
“Dan sungguh benar-benar Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya. Dan Kami sangat dekat daripada urat lehernya.” (QS. Qaf/50: 16)
...... وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌۗ
“Dan Dia (Allah) bersama kamu di manapun kamu berada, dan Allah terhadap apa yang kamu kerjakan Maha Melihat.” (QS. Al-Hadîd/57: 4)
Oleh karena Allah SWT berada sangat dekat dengan hamba-hamba-Nya dan Maha Mengetahui segala apa yang dilakukan oleh hamba-Nya, maka dalam berdo`a sudah seharusnya langsung dimohonkan kepada Allah, dan tidak melalui perantara siapapun dan apapun juga selain yang dituntunkan oleh Allah SWT.
3. Ibadah harus dilakukan secara ikhlas yakni dengan niat yang murni semata hanya mengharap keridhaan Allah SWT. Keikhlasan harus ada dalam seluruh ibadah, karena keikhlasan inilah jiwa dari ibadah. Tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin ada ibadah yang sesungguhnya. Beribadah secara ikhlas didasarkan pada firman Allah SWT:
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada- Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.”(QS. Al- Bayyinah/98: 5)
Nabi saw menyatakan bahwa setiap perbuatan tergantung pada niatnya (Muttafaq ‘alayh yakni hadis ini disepakati oleh al-Bukhâri dan Muslim, dari Umar ra). Demikian pula hadis Nabi saw yang lain yang berbunyi:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
“Allah tidak menerima amalan kecuali dikerjakan dengan ikhlas dan hanya mencari ridla-Nya.” (HR. Al-Nasâ`i)
Berdasarkan dalil di atas bahwa hanya ibadah yang dilakukan secara ikhlas saja yang akan diterima oleh Allah SWT. Untuk itu:
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ (QS. Al-An‘âm/6: 162)
Sedangkan ibadah yang dilakukan secara tidak ikhlas, seperti karena ada unsur riya’ (karena ingin dilihat), tidak akan punya nilai apa-apa di hadapan Allah, bahkan bisa mendapatkan kecelakaan (QS. Al- Mâ‘ûn/107: 4-7). Jadi, amal yang lahirnya baik apabila motifnya riya’, maka bukan saja amalnya menjadi sia- sia tapi akan merugikan diri sendiri, baik secara lahir maupun batin, di dunia maupun di akhirat.
Di tulis ulang oleh : Khudhori
BACA JUGA :
