by woy16

Halaman

Arsip Blog

SHALAT SESUAI TUNTUNAN NABI SAW : Falsafah Ibadah

 

SHALAT SESUAI TUNTUNAN NABI SAW

(Mengupas Kontroversi Hadits sekitar Shalat) 

 Karya : Syakir Jamaluddin, M.A

Revisi ke-2

  

BAB I

PENGANTAR IBADAH

 

C.     Falsafah Ibadah : Mengapa Kita Harus Beribadah?

Seluruh makhluk yang ada dialam semesta ini dicipta dan dipelihara (rububiyyatullah), dimiliki dan dikuasai secara mutlak oleh Alloh SWT (mulkiyyatullah).

Tentang penciptaan dan pemeliharaan tersebut, Allpoh SWT berfirman :

يَااَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang menciptakan kamu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah/2:21)

اِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةًۖ وَّاَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, aga yang satu dan Aku adalah Tuhan (Pencipta dan Pemelihara)-mu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’/21:92)

Sebagai Yang Mencipta, tentu Dia-lah yang paling tahu tentang apa yang terbaik dan apa yang terburuk bagi ciptaan-Nya. Dan, supaya manusia bisa menjadi taqwâ (yakni: terpelihara hidupnya) maka hal terbaik bagi manusia menurut Sang Pencipta adalah ketika hidup manusia digunakan untuk beribadah hanya kepada-Nya dan hanya karena-Nya

Tentang pemilikan dan penguasaan Allah terhadap segala sesuatu, Allah berfirman:

وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُࣖ

”Kepunyaan Allahlah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.” (QS. Ali Imrân/3: 109)

Sebagai milik Allah, maka –suka atau tidak suka— semuanya pasti dikembalikan dan berserah diri kepada Allah SWT:

..... وَلَهٗٓ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ

“…kepada-Nya-lah berserah diri siapa saja yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali ‘Imrân/3: 83)

وَلِلّٰهِ غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاِلَيْهِ يُرْجَعُ الْاَمْرُ كُلُّهٗ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَࣖ

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada- Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”(QS. Hûd/11: 123)

Jika kita mencermati 3 ayat di atas, semuanya menggunakan kalimat pasif dikembalikan. Sengaja Allah SWT memilih kalimat dikembalikan karena memang semua persoalan tanpa kecuali, pasti akan dikembalikan atau dipaksa untuk kembali kepada Allah Sang Pemilik, Sang Penguasa (al-Malik) dan Sang Pemaksa (al-Qahhâr) dalam keadaan suka ataupun tidak suka. Atas dasar inilah, sehingga tidak ada pilihan lain bagi manusia kecuali berserah diri secara mutlak kepada Allah Dzat Yang Maha Memiliki dan Menguasai seluruh hidup dan kehidupan kita serta seluruh alam semesta (tawhîd mulkiyah). Atas dasar ini pula manusia tidak dibenarkan memisahkan aktivitas hidupnya, sebagian untuk Allah dan sebagiannya lagi untuk yang lain. Semuanya harus total dipersembahkan hanya kepada Allah.

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ (QS. Al-An‘âm/6: 162)

Selain itu, Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna (QS. Al-Tîn/95: 4) dan paling dimuliakan Allah dengan memberinya berbagai kelebihan dibanding makhluk yang lain (QS. Al-Isra’/17: 70). Penciptaan dan pemuliaan Allah terhadap manusia dengan memberikan fasilitas yang lebih berupa akal dan nurani, tentunya bukan tanpa tujuan. Karena itu Allah SWT memberikan pertanyaan reflektif kepada manusia secara sempurna oleh Allah SWT, dan tentang kemana tempat kembali terakhir kita kalau bukan kepada Allah SWT, dengan maksud mengajak kita untuk berpikir dan merenung tentang tujuan penciptaan manusia. Tentu ada tujuan Allah untuk semua itu.

Allah menciptakan manusia lengkap dengan berbagai kelebihan dimaksudkan karena Allah akan memberikan tugas mulia kepada manusia yakni menjadi khalifah Allah di bumi (QS. Al-Baqarah/2: 30) yang bertugas memakmurkan bumi ini (QS. Hûd/11: 61). Untuk melaksanakan tugas kekhalifahan dengan baik maka tidak bisa tidak kecuali harus didasarkan pada semangat pengabdian (ibadah) yang murni hanya karena Allah SWT semata. Untuk itulah Allah

SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Al-Dzâriyât/51:56). (Lihat juga QS. Al-Bayyinah/98: 5).

Dengan beribadah kepada Allah SWT maka manusia

bisa menjadi manusia yang bertaqwa. Firman Allah SWT:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Hai manusia, sembahlah (beribadahlah) kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah/2: 21).

Hanya dengan bekal taqwa, seseorang akan mampu

memfungsikan dirinya sebagai ‘abdullâh (hamba Allah) se- kaligus khalîfatullâh (khalifah Allah) di muka bumi sehingga ia mampu menyelesaikan tugas kekhalifahannya dengan baik ketika di dunia untuk kemudian dipertanggungjawab- kan kepada Allah SWT di akhirat kelak.

 

Di tulis ulang oleh : Khudhori 

 

BACA JUGA :

Pengertian dan Pembagian Ibadah 

📚 Daftar Postingan