by woy16

Halaman

Arsip Blog

SHALAT SESUAI TUNTUNAN NABI SAW : Prinsip-prinsip Ibadah bagian (2)

 

SHALAT SESUAI TUNTUNAN NABI SAW

(Mengupas Kontroversi Hadits sekitar Shalat) 

 Karya : Syakir Jamaluddin, M.A

Revisi ke-2

  

BAB I

PENGANTAR IBADAH

 

D.     Prinsip-prinsip Ibadah

 

4.    Ibadah harus sesuai dengan tuntunan. Allah SWT berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًاࣖ

.....Barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal shaleh dan ia jangan mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.”(QS.Al-Kahfi/18: 110)

Arti kata shâlih adalah baik karena sesuai. Seseorang dikatakan beramal shaleh bila dalam beribadah kepada Allah sesuai dengan cara yang disyari`atkan Allah melalui para Nabi-Nya, bukan dengan cara yang dibuat oleh manusia sendiri.

Nabi saw bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengadakan sesuatu dalam perkara kami ini yang tidak ada tuntunan (Islam) di dalamnya maka ditolak.” (Hadis ini disepakati oleh Al-Bukhâri dan Muslim)

Begitu bahayanya akibat dari penyimpangan agama sehingga Nabi Muhammad saw memperingatkan dengan sabdanya:

...... فَإِنَّ خَيْرَاْلحَدِيْثِ كِتَابُ الله اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ (رواه مسلم وابن ماجة وأحمد والدارمى) وفى لفظ النسائى : وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya sebaik-baik berita adalah Kitabullah (Al- Qur’an), dan sebaik-baik bimbingan, adalah bimbingan Muhammad, sedang sejelek-jelek perkara adalah mengada-ada padanya, dan setiap bid`ah (penyimpangan dengan mengada- ada) adalah sesat.” (HSR. Muslim, Ibn Majah, Ahmad dan Darimi) Dalam redaksi Al-Nasa’i (ada tambahan): “... dan setiap yang sesat, di neraka.”

Hadis ini dimaksudkan sebagai peringatan agar orang tidak mudah melakukan penyimpangan (bid`ah) dalam masalah ibadah mahdlah.

Contoh : Dalam masalah shalat, Nabi Muhammad SAW bersabda :

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّى (رواه البخارى)

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HSR. Al-Bukhari dari Malik bin Al-Huwairits)

Nabi Muhammad saw telah mengajarkan tentang tata cara shalat secara lengkap melalui hadits-haditsnya yang maqbul, dari sejak niat yang dilafalkan, bacaan dan gerakan shalat, jumlah rakaat, waktu shalat, dan lain-lain. Dalam masalah ibadah mahdhah (khusus) yang jelas-jelas sudah ada keterangan dari Allah dan Rasul-Nya, tidak boleh ada hasil kreasi pemikiran manusia yang boleh masuk didalamnya.

5.    Seimbang antara undur jasmani dengan rohani. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT :

وَابْتَغِ فِيْمَا اٰتَاكَ اللهُ الدَّارَ اْلأٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا .....

“Dan carilah apa yang Allah berikan kepadamu berupa (kebahagiaan) negeri akhirat, namun jangan kamu lupa kebahagiaanmu (nasibmu) dari (kenikmatan) dunia...”(QS. Al-Qashash/28:77).

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلۡتَـنۡظُرۡ نَـفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ​ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ​ؕ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ. وَلَا تَكُوۡنُوۡا كَالَّذِيۡنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنۡسٰٮهُمۡ اَنۡفُسَهُمۡ​ؕ اُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ‏‏ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. AL-Hasyr/59:18,19).

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah/2:201)

6.    Mudah dan meringankan. Allah SWT berfirman :

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ......

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah/2:286)

Syariat yang diciptakan Allah SWT mesti sudah sesuai dengan porsi kemanusiaan manusia. Hal ini karena Allah sebagai pencipta alam semesta termasuk manusia, tentunya paling tahu tentang ciptaan-Nya dan paling tahu tentang apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya itu. Allah juga Maha Mengetahui akan keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki ciptaan-Nya, sehingga dalam keadaan yang tidak normal, yakni : membahayakan, menyulitkan atau tidak memungkinkan, maka selalu ada jalan keluar berupa keringanan atau rukhshoh yang ditawarkan Allah dalam syariat-Nya. Itulah sebabnya Allah SWT berfirman :

.... وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِى الدِّيۡنِ مِنۡ حَرَجٍ‌ؕ ....

“Dan tidaklah Dia (Allah) menjadikan agama bagimu sebagai beban.” (Al-Hajj/22:78)

.... مَا يُرِيۡدُ اللّٰهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُمۡ مِّنۡ حَرَجٍ .....

Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan.” (QS. Al-Maida/5:6)

 

Di tulis ulang oleh : Khudhori 

 

BACA JUGA :

Pengertian dan Pembagian Ibadah 

Falsafah Ibadah 

Prinsip-prinsip Ibadah bagian 1 

📚 Daftar Postingan