by woy16

Halaman

Arsip Blog

SHALAT SESUAI TUNTUNAN NABI SAW : SHALAT (Fungsi dan Hikmah Shalat)

 

SHALAT SESUAI TUNTUNAN NABI SAW

(Mengupas Kontroversi Hadits sekitar Shalat) 

 Karya : Syakir Jamaluddin, M.A

Revisi ke-2

  

BAB III

SHALAT

 

C.     Fungsi dan Hikmah Shalat

Diantara fungsi dan himah shalat, adalah:

1.      Untuk mengingat Allah SWT. Inilah fungsi shalat yang utama yakni sebagai sarana dzikrullah (mengingat Allah) dan media khusus untuk menyembah hanya kepada Allah semata. Allah SWT berfirman:

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Artinya: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha/20:14).

Orang yang mengfungsikan shalatnya sebagai sarana untuk mengingat Allah, akan mendapatkan ketentraman hati.

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d/13:28).

Tidak mungkin orang yang bisa mendapatkan ketenangan dan kekhusyu’an dalam mengingat Allah tanpa mengenal dengan baik siapa Allah (ma’rifatullah) yang disembahnya. Dengan kata lain, kekhusyu’an shalat seseorang sangat bergantung pada sejauh mana orang tersebut mengenal Allah SWT. Orang yang mengenal Allah dengan baik, akan mampu merasakan kehadiran dan pengawasan Allah dalam ibadahnya kemudian mendorongnya untuk  selalu bersikap dan berperilaku terbaik/al-ihsan. Sikap al-ihsan hanya bisa terjadi jika kita shalat atau menyembah Allah seakan-akan kita melihat-Nya. Namun sekiranya kita tidak bisa melihat Allah, maka yakinlah bahwa Allah selalu hadir dan melihat kita (lihat hadits muttafaq ‘alayh tentang penjelasan Nabi SAW tentang al-ihsan kepada Jibril as).

Hal lain yang dapat membantu kekhusyu’an dalan shalat yakni memahami dan menghayati makna bacaan shalat. Orang yang tidak memahami dan menjiwai apa yang dibacanya ibaratnya seperti orang yang sedang mabuk, padahal Allah melarang kita shalat dalam keadaan mabuk karena tidak mengerti apa yang dibacanya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكٰرٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ .....

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendekati salat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk sampai kamu sadar akan apa yang kamu ucapkan ......” (QS. An-Nisa’/4/43).

Khusyu’ juga dapat diperoleh dari cara membaca bacaan shalat secara tartil, benar, perlahan, dan dengan penjiwaan yang tinggi. Sangat sulit mendapatkan khusyu’ bila bacaan dan gerakan shalat terburu-buru (yakni: tidak thuma’ninah/tenang), tidak ada penjiwaan/penghayatan, apalagi bila bermakmum pada imam yang tidak fasih. Maka bantu jamaah untuk meraih khusyu’ dengangkat imam yang memenuhi kriteria imam shalat yang telah dijelaskan Nabi SAW. (lihat sub bab: Kriteria imam shalat).

Meskipun keabsahan shalat ditentukan oleh bacaan dan gerakan shalat, tapi jiwa yang berada dalam hati tidak boleh diabaikan karena jiwalah yang bekerja dalam shalat, jiwalah sebagai penentu yang mempengaruhi seluruh kerja shalat. Bila jiwa/qalbu khusyu’, maka seluruh anggota badan : pendengaran, pandangan, orak, gerakan, dan ucapan/bacaan akan ikut khusyu’. Nabi SAW bersabda:
أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya: “Ketahuilah! Sesungguhnya didalam jasad ini ada sekerat daging. Jika ia baik, maka baik pulalah jasad itu seluruhnya. Namun jika ia rusak, maka rusak pulalah jasad itu seluruhnya. Ketahuilah, sekerat daging itu adalah al-qalbu/hati.” (Muttafaq ‘Alayh, dari An-Nu’man bin Basyir ra).

Selain itu, kekhusyu’an dapat diperoleh dengan menjauhkan hal-hal yang dapat mengacaukan konsentrasi shalat, misal: dengan menyelesaikan aktivitas yang nanggung penyelesaiannya namun dilarang terburu, misal: sedang makan (Muttafaq ‘Alayh), menyantap hidangan yang telah tersaji (بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ), dilarang lari terburu-buru mengejar shalat (Muttafaq ‘Alayh), tidak menahan buang air kecil dan besar ( اَلْأَخْبَثَانِ . HR. Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad), dianjurkan tidur dahulu bila sangat mengantuk ( نَعَسَ . Muttafaq ‘Alayh), mematikan segala suara (seperti: suara HP, radio-tape, TV) dan menyingkirkan gambar/tulisan (termasuk gambar/tulisan di sajadah dan di baju belakang) yang dapat mengganggu kekhusyu’an shalat. Itulah sebabnya Nabi SAW pernah menyuruh ‘Aisyah menyingkirkan tabir/kain bergambar karena mengganggu kekgusyu’an shalat beliau (HSR. Al-Bukhari, 7/216:5959, Muslim 6/159:5651).

2.      Shalat yang dilakukan secara intensif akan mendidik dan melatih seseorang menjadi tenang dalam menghadapi kesusahan dan tidak bersikap kikir saat mendapat nimat dari Allah SWT. Allah SWT berfirman:

اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ، اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ، وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ، اِلَّا الْمُصَلِّيْنَۙ، الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَۖ

Artinya: “Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah lagi kikir, Apabila ditimpa keburukan (kesusahan), ia berkeluh kesah, Apabila mendapat kebaikan (harta), ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang selalu setia mengerjakan salatnya.” (QS. Al-Ma’arij/70:19-23).

3.      Mencegah perbuatan keji dan munkar. Firman Allah SWT:

..... وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Artinya: “dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut/29:45).

Shalat yang dilakukan sesuai dengan fungsi utamanya yakni dzikrullah (mengingat Allah), dia jaga kualitas dan intensitas shalatnya sesuai tuntunan Allah melalui Rasul-Nya maka mesti memiliki kualitas dan pengaruh yang sangat kuat dalam mencegah seseorang terhadap perbuatan keji dan munkar.

4.      Shalat dan sabar juga berfungsi sebagai penolong bagi orang yang beriman. Allah SWT berfirman:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ

Artinya: “Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah/2:45). Ayat yang senada juga terdapat dalam QS. 2:153.

Untuk mendapatkan shalat yang fungsional seperti diatas maka seseorang harus menjaga kualitas/kekhusyu’an (QS. 23:2) dan intensitas/kontinyuitas shalatnya (QS. 23:9,70,23). Orang yang mampu mengfungsikan shalatnya sebagai sarana untuk  mengingat Allah SWT secara khusyu’ dan dapat menjaga intensitas shalatnya akan mampu mengingat Allah SWT dalam setiap keadaan yang selanjutnya mendorongnya untuk senantiasa menghiasi dirinya dengan akhlak mulia dan menjauhi segala bentuk kekejian dan kemunkaran. Setelah shalat, dia tebarkan salam/keselamatan untuk seluruh alam. Dia padukan antara kekuatan dzikir dan fikir dengan melakukan kajian serius untuk mencari akar masalah penyebab munculnya perbuatan keji dan munkar, lalu dia cari solusi pemecahan yang tepat dengan semangat :  , yakni semangat pengabdian/ibadah yang ikhlas hanya karena Allah semata, serta tetap bermohon pertolongan/ma’unah dan petunjuk/hidayah dari Allah SWT. Tidak berhenti sampai kajian/pengajian/sarasehan, tapi dia wujudkan dalam amal nyata dengan gerakan bersama (‘amal jam’i), mensinergikan segala potensi umat yang ada untuk memberikan bantuan yang bermanfaat (al-ma’un) atau pendampingan untuk mengentaskan kemiskinan dalam berbagai wujud, baik itu miskin harta, miskin kasih-sayang, miskin kesehatan, miskin pendidikan, maupun miskin spiritual. Inilah sebenarnya spirit surat AL-Ma’un/107 agar kita tidak termasuk diantara orang-orang yang shalat tapi celaka (), seperti shalatnya orang munafik. Shalat orang munafik itu hanya mementingkan  aspek luaran/penampakan fisik tanpa peduli pada aspek kedalaman shalat. Kelihatannya shalat dan khusyu’, tapi hati dan perilakunya sama sekali tidak mencerminkan orang yang shalat. Tidak ada bekas sujud yang bisa dirasakan manfaatnya oleh makhluk Allah, membiarkan perbuatan keji dan munkar terjadi di matanya, bahkan dia sendiri menjadi bagian amar munkar nahi ma’ruf. Seharusnya bekas/pengaruh sujud tampak pada wajah, penampilan, dan akhlak yang menyenangkan hingga upaya membangun peradaban utama melalui gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Dan, jika ingin menjadi orang beriman yang sukses, beruntung dan menjadi pemenang di dunia dan di akhirat, maka selain menjaga intensitas shalatnya, juga harus menjaga kualitas shalatnya agar bisa fungsional yakni berfungsi maksimal sebagaimana yang diharapkan Allah SWT. Tidak ada balasan yang pantas bagi mereka yang menjaga kualitas dan intensitas shalatnya kecuali Allah SWT menjadikannya sebagai pewaris surga Firdaus, sebagaimana firman-Nya:

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَۙ، الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ، ....... وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَافِظُوْنَۘ، اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْوٰرِثُوْنَۙ، الَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ الْفِرْدَوْسَۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Atinya: “Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin, (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya,….. Orang-orang yang memelihara salat mereka, Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (Yaitu) orang-orang yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun/23:1-2, 9-11).


Di tulis ulang oleh : Khudhori 

 

BACA JUGA :

SHALAT (Hukum Meninggalkan Shalat) 

SHALAT (Arti dan Kedudukan Shalat) 

Tayammum 

Mandi 

Mengusap kedua khuf 

Pengertian dan Pembagian Ibadah 

Falsafah Ibadah 

Prinsip-prinsip Ibadah bagian 1 

Prinsip-prinsip Ibadah bagian 2 

Pengertian Thaharah 

Alat Bersuci 

Najis dan Hadats 

Wudlu 

Hal-hal yang Membatalkan Wudlu 

📚 Daftar Postingan