SHALAT SESUAI TUNTUNAN NABI SAW
(Mengupas Kontroversi Hadits sekitar Shalat)
Karya : Syakir Jamaluddin, M.A
Revisi ke-2
BAB III
SHALAT
Penambahan kata sayyidina dalam shalawat, adakah tuntunannya?
Menurut madzhab Hanafiyah dan Syafi’iyah bahwa disunnahkan dalam bershalawat menyebutkan sayyidina Muhammad dan dianggap lebih afdal daripada meninggalkannya. Tanpa mendasarkan pada riwayat: “jangan kalian mensyayyidkan () aku dalam shalat karena tidak ada sumbernya, namun karena tidak satupun hadits yang mencontohkan shalawat dari sekian banyak shalawat Nabi dalam shalat apalagi shalat termasuk ibadah khusus, maka dalam membaca shalawat dalam shalat, tidak disunnahkan menggunakan kata sayyidina Muhammad meskipun untuk maksud penghormatan. Tetapi diluar bacaan shalat atau ibadah mahdlah lainnya, masih dibolehkan menyebut kalimay sayyidina Muhammad sebagai ekspresi cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. Wallahu a’lam.
Setelah shalawat, berdo’alah dengan memilih do’a yang pendek sekehendak hati. Salah satu do’a yang bisa dijadikan sebagai akhir do’a tasyahhud awal atau sebelum salam adalah do’a yang diajarkan Nabi SAW kepada Abu Bakar Ash-Shidiq ketia ia minta diajarkan sebuah do’a dalam shalat. Kata Nabi SAW, “ucapkanlah”
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya hamba telah mendzalimi diri sendiri dengan kedzaliman yang banyak, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah dosa hamba dengan ampunan dari sisi-Mu, dan kasihilah hamba. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.” (HSR. Al-Bukhari, Muslim, dll).
Setelah membaca do’a tasyahhud awal, berdirilah dari rakaat kedua dengan bertakbir sambil mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu dan telinga (HR. Al-Bukhari 1/188, Abu Dawud, Ibnu Majah dari Ibnu ‘Umar dan Abu Humaid), kemudian bacalah Al-fatihah saja. Pada rakaat terakhir setelah membaca tahiyyat akhir dan shalawat, Nabi SAW menganjurkan untuk berlindung kepada Allah dari 4 (empat) hal dengan membaca do’a:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah dari Abu Hurairah, dan boleh ditambahkan dengan do’a berlindung dari dosa dan hutang: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ: (Muttafaq ‘Alaih dari ‘Aisyah ra). Atau bisa juga membaca do’a yang diajarkan Nabi SAW kepada MU’adz bin Jabal ra diakhir setiap shalat:
اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Artinya: “Ya Allah, tolonglah hamba agar senantiasa mengingat-Mu, bersykur kepada-Mu dan melakukan ibadah yang terbaik kepada-Mu.” (HSR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad. Do’a ini bisa dibaca sebelum salam dan bisa juga setelah salam). Adapun do’a supaya tetap istiqamah dalam agama Islam: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ: memang sering dibaca Nabi SAW, tapi bukan didalam shalat karena haditsnya dha’if dan gharib melalui Ashim bin Kulaib dari bapaknya (HDR. At-Tirmidzi 5/573:3587).
Di tulis ulang oleh : Khudhori
BACA JUGA :
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 8)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 7)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 6)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 5)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 4)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 3)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 2)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 1)
SHALAT (Syarat Sahnya Shalat : 3)
SHALAT (Syarat Sahnya Shalat : 2)
SHALAT (Syarat Sahnya Shalat : 1)
SHALAT (Fungsi dan Hikmah Shalat)
SHALAT (Hukum Meninggalkan Shalat)
SHALAT (Arti dan Kedudukan Shalat)
Pengertian dan Pembagian Ibadah
Prinsip-prinsip Ibadah bagian 1
