by woy16

Halaman

Arsip Blog

SEJARAH PATUNG KUDA PUTIH DESA GENTINGGUNUNG (BAGIAN KEDUA)

 


ALBUM PERJUANGAN

Jakarta “Buana Minggu” terbitan Minggu Wage, 8 Januari 1984

TJOKRO ALIAS NARUTO IKEGAMI EKS. TENTARA JEPANG BERJUANG PERTAHANKAN KEMERDEKAAN RI

Tjokro pimpin pertempuran 3 jam dalam insiden Jengkol

OLEH : EDDY HARSONO – JAKARTA

 

BAGIAN KEDUA

INSIDEN ITU GARA-GARA BELANDA MEROBEKI BENDERA MERAH-PUTIH KERTAS DI RUMAH PENDUDUK -.- BELANDA PANAS, TJOKRO-PUN PANAS -.- PERTEMPURAN HAMPIR MENGHABISKAN PELURU PASUKAN TJOKRO -.- DLM SERANGAN UMUM, MAYOR BINTORO TERTEMBAK KAKINYA -.- MAYOR ACHMAD YANG KOMUNIS ITU MEMBUNUH PARA PEJABAT SETEMPAT DENGAN CARA YANG LICIK -.- MACHMUD SEMBUNYI DI DAERAH PENDUDUKAN BELANDA -.- DIPANCING DENGAN SURAT DARI ISTRINYA -.-  ATAS PERINTAH KOL. SARBINI, LETKOL. A. YANI MELAKUKAN PENUMPASAN -.-  MACHMUD BERHASIL DISERGAP, KEMUDIAN DIJATUHI HUKUMAN TEMBAK MATI

Keberanian Mayor Bintoro dalam memimpin pertempuran sudah terkenal sejak bettugas di daerah Kendal; agresi Belznda pertama, memimpin anak buahnya bertempur sambil berdiri, seolah kebal peluru. Demikian pula ketika memimpin kelompok pasukan kecil dalam serangan umum kota Parakan, Kabupaten Temanggung, 17 Januari 1949 Mayor Bintoro berada di barisan paling depan. Ia dan anak buahnya berhasil masuk kota sampai di halamn kantor kewedanaan. Dengan penuh kewaspadaan, ia siap menerobos pagar pagar kawat berduri untuk melihat situasi diseberang pagar.

Dalam pertempuran yang hampir berlangsung enam jam sejak tengah malam itu, Mayor Bintoro tertembak kakinya setelah dibrondong oleh Belanda dari jarak 15 meter. “Aku kena, golekno opo lawang,” teriak Mayor Bintoro beberapa saat setelah tertembak dan baru menyadari kaki ya terluka, jatuh. Maksudnya, ia minta agar dicarikan tangga atau daun pintu guna mengangkat dirinya, karena tidak bisa jalan lagi.

Sekitar jam 05.30 para gerilyawan diperintahkan mundur. Kompi Sukarno mundur ke barat, sedang Kompi Tjiptono termasuk Tjokro ke utara. Mayor Bintoro diangkut dengan tangga sebagai usungannya dan dibawa keluar kota ke markas batalion di desa Pitrosari.

Sekitar jam 07.30 bantuan Belanda datang, berupa dua pesawat tempur cocor merah, terbang menyambar-nyambar diatas kota Parakan sambil memuntahkan peluru 12,7-nya. Namun saat itu para pejuang meninggalkan kota, bahkan Kompi Tjiptono sudah berada di desa Ngadirejo.

Sementara itu hari itu juga berita tertembaknya Mayor Bintoro tersebar luas. Sore harinya, Mayor Bintoro menginstruksikan agar disebarluaskan berita bahwa dirinya telah gugur dalam pertempuran serawngna umum tersebut. Maksudnya agar berita terseut sampai kepada Belanda dan selanjutnya Belanda tidak akan melakukan pengejaran atau mencarinya lagi. Namun demikian akhirnya Belanda juga tahu; melalui mata-matanya, bahwa Mayor Bintoro masih hidup, dan tinggal di Pitrosari. Belanda lalu mengirim pasukan untuk menyergapnya. Namun sebelum mereka menginjakkan kaki di desa Pitrosari, pasukan pengawal pimpinan Sumar dan pasukan Tjokro lebih dulu menghadangya dibantu dengan tembakan mortir. Pasukan Belanda kocar-kacir dan mengundurkan diri sambil membawa anggotanya yang terluka dan tewas. Mayor Bintoro, terpaksa diungsikan ke lain daerah, padahal waktu itu luka-luka hampir sembuh, sehingga kambuh lagi. Sebuah peluru yang bersarang di salah satu kakiya,  baru bisa dikeluarkan 12ntahun kemudian.

Dalam setiap perjuangan, selalu ada pengkhianat. Demikian pula terjadi dikalangan pejuang yang bergerilya di sekitar Parakan. Misalnya, Kompi Istanto. Kesatuan ini lama  tidak pernah megirimkan kurir untuk mengadakn kontak diantara sesama pejuang. Di kemudian baru diketahui, bahwa kapten Istanto yang semula dikenal sebagai Banteng Temanggung, menyeberang ke Belanda di Kota Parakan. Alasannya karena istrinya tinggal di dalam kota. Anak buahnya dibubarkan dan diperintahkan agar kembali ke rumah masing-masing. Namun justru anak buahnya menolak perintahnya dan meneruskan perjuangan., melaporkan pengkhianatan komandannya dan selanjutnya bergabung dengan pasukan gerilya lainnya.

 

Insiden Jengkol

Selama dalam perang gerilya menghadapi agresj Belanda kedua, di daerah Plantungan, Sukorejo dan Tretep, pasukan Tjokro mengalami lebih dari 20 kali pertempuran, tidak termasuk pertempuran di dserah Sepuran Wonosobo. Kepada penulis Tjokro alias Naruto Ikegami bekas tentara Jepang yang  buntung tangannya itu menuturkan pengalaman heroik lainnya, gara-gara Belanda merobek-robek bendera merah putih di rumah penduduk. Peristiwa itu justru terjadi tatkala antara pasukan Indonesia dengan pasukan Belanda dalam gencatan senjata. Peristiwa itu terkenal dengan sebutan Insiden Jengkol. Diawali dengan penduduk Jengkol, kecamatan Plantungan yang merasa aman karena tidak akan perang lagi. Mereka menempelkan bendera merah putih dari kertas di dinding rumah mereka. Atas laporan-laporan dari mata-matanya, maka tentara Belanda yang ada di plantungan menjadi panas dan kemudian mendatangi desa itu dan emudian merobeki bendera merah putih. Beberapa pendduduk lari dan melaporkan kepada Tjokro yang sedang beratroli di desa seberang. Tjokropun menjadi panas dan memerintahkan anak buahnya untuk melakukan settling diluar desa di tempat yang agak tinggi untuk menghadang kembalinya pasukan Belanda kembali ke markasnya.

Belanda yang terdiri dari kesatuan KNIL muncul diseberang tebing. Tjokro melepaskan tembakan pistol keatas memancing nyali musuh. Tembakan Tjokro dibalas dengan tembakan gencar. Pertempuran sengit tidak bisa dielakkan.

“Pertempuran itu seru dan berlangsung hampir tiga ja. Pasukan saya hampir kehabisan peluru. Saya perintahkan anak buah untuk meminta bantuan penduduk untuk mengambil peluru. Tetapi karena tempat penyimpanan peluru itu jauh terpaksa naik kuda”, kata Tjokro alias Naruto Ikegami. Ketika itu akan diadakan penyerangan kota Plantungan datanagn Belanda kepada Indonesia. Sudah ditentukan, pimpinan tentara indonesia yang akan menerima penyerangan adalah Tjokro komandan Seksi ke 4. Tetapi ketika mengetahui Tjokro bukan orang Indonesia , Belanda protes, dan disampaikan kepada anggota komisi tiga negara; beranggotakan wakil dari AS, Belgia, dan Australia. /komandan pasukan KNIL mengajukan protes, Belanda tidak bersedia menyerahan kota itu kepada orang Jepang yang memang menjadi musuh bebuyutan dalan PD II, meskipun mereka tahu orang Jepang itu sudah menjadi tentara Indonesia. Dengan adanya insiden tersebut, letnan Tjokro segera menghubungi komandan kompi, Kapten Tjiptono yang selanjutnya melaporannya kepada Letkol A. Yani. Lalu pak A. Yani memutuskan bahwa yang akan menerima penyerahan kota Plantungan adalah Letnan Sudirgo, wakil komandan seksi 4; jadi wakilnya Tjokro. Brigjen Purn. Tjiptono Setiabudi yang pada 1949 menjabatkomandan kompi 22 di daerah Selatan Kendal, pernah menuturkan kepada penulis tentang Tjokro alias Naruto Ikegami. “almarhum Pak Yani tahu betul siapakah Tjokro, nekas tentara Jepang yang sejak permulaan proklamasi kemerdekaan ikut berjuang dan mengabdikan dirinya kepada negara Indonesia. Sejak tahun 1945 Tjokro masuk BKR/TKR pimpinan Kol. Bambang Sugeng di Temanggung.”

 

Pemberontakan PKI di Parakan

Bersamaan dengan meletusnya pemberontakan PKI di Madiun 1948, di Parakan juga terjadi pemberontakan PKI yang dilakukan oleh lasykar Pesindo; organisasi dibawah PKI, yang dipimpin oleh Mayor Machmud Komandan pasukan Pesindo Pekalongan yang hijrah ke Parakan. Pasukan Pesindo pimpinan Machmud itu menangkap dan membunuh para pejabat pemerintahan dan militer dari Temanggung dan Parakan dengan jalan licik. Machmud saat itu menjabat komandan pasukan gabungan (garnisun) di Parakan. Ia mengundang Bupati, para komandan pasukan yang ada di Temanggung agar datang di Parakan guna mengadakan rapat membahas situasi sehubungan terjadinya pemberontakan PKI di Madiun.

Perlu diketahui, disamping pasukan TRI di kota Temanggung juga terdapat pasukan corps Armada IV Tegal yang dipimpin oleh Letkol Suhadi dengan beberapa Batalyon pasukan korps komando (marinir). Sedangkan diparakan selain pasukan pesindo pimpinan machmud juga terdapat kesatuan lain seperti pasukan korps komando dari korps armada IV pimpinan mayor moh.junus.

Para pejabat yang sudah tau siapa mayor machmud , tidak mau memenuhi undangan tersebut. Tetapi yang belum tau, lalu datang dan akhirnya ditangkap dan dibunuh didaerah perbatasan dekat pendudukan belanda didaerah tretep. Diantara penjabat sipil yang diculik dan dibunuh oleh anak buah machmud kalau tidak salah adalah asisten wedana (Camat ) Tretep. Sedangkan , dari pihak militer al.Letnan Suwadji, komandan polisi tentara dari markas besar polisi tentara yogyakarta.

Penulis ingat, malam sebelum mereka melakukan kup machmud telah menjebak dua regu pasukan lain. Mereka dilucuti senjatanya lalu ditahan. Caranya, beberapa jam sebelumnya machmud telah mengirimkan pasukannya kedesa paponan dipinggir jalan parakan –wonosobo. Mereka siap masukan parakan pada jam yang telah ditentukan. Sedangkan dua regu pasukan yang akan dilucuti itu diperintahkan mengadakan operasi pengamanan kebarat menyelusuri jalan raya parakan – wonosobo. Katanya ada pasukan liar yang akan masuk parakan. Dengan demikian markas tentara gabungan yang ada diparakan dengan mudah dikuasai oleh anak buah machmud. Sementara itu kedua pasukan itu bertemu dijalan barat parakan;pasukan yang disuruh menjemput pasukan liar , sadar bahwa mereka telah terjebak dan tidak mungkin lagi mengadakan , langsung digiring kemarkas .

Sementara itu pasukan lain yang ada disekitar parakan mengundurkan diri keluar kota, karena tidak mungkin menghadapi pasukan machmud yang cukup kuat itu . mereka menunggu datangnya bantuan dari pasukan lain. Demikian juga pasukan yang ada ditemanggung juga menyingkir keluar dan mengadakan steling diluar kota.

Berita mengenai terjadinya pemberontakan komunis diparakan itu segera sampai dimagelang. Koomandan divisi III letkol Sarbini segera memerintah Letkol A.Yani menuntas dan merebut kembali parakan dari tangan komunis.

Lebih kurang satu kilometer sebelum masuk kota parakan, TRI dari Magelang melepaskan tembakan senapan mesin untuk memancing lawan dan sekaligus untuk mengetahui apakah musuh masih ada dalam kota. Biasanya setelah mereka menangkap pejabat sipil dan militer, para komunis itu segera melarikan diri . tembakan tersebut juga dimaksudkan untuk mengertak pasukan machmud, bahwa pasukan TRI sudah siap bertempur.

Ternyata pasukan machmud sudah meninggalkan kota pada malam hari sehingga tidak sampai terjadi pertempuran. Pasukan TRI yang masuk kota parakan sekitar jam 06.00 pagi itu segera mengadakan operasi pembersihan dari rumah kerumah ,mencari sisa- sisa pasukan komunis dalam kota. Setelah yakin, keadaan kota bersih dari komunis, TRI segera mengadakan pengejaran ke barat dan utara. Sesaat sebelum TRI bergerak, pasukan mobrig (sekarang brigmob) sudah tiba di kota parakan untuk menjaga kota.

Tiga hari kemudian dua truck berisi anak buah Machmud ditangkap di pedesaan sekitar Gunung Prau. Mereka dibawa ke Temanggung melewati Parakan untuk pemeriksaan seperlunya. Saat mereka ditangkap keadaannya sangat menyedihkan. Muka pucat dan dalam kantong celana terdapat ubi yang masih mentah. Mereka kekurangan makanan.

Pasukan komunis pimpinan Machmud akhirnya dapat ditumpas. Machmud dengan menunggang kuda dan dikawal oleh beberapa anak buahnya sempat meloloskan diri masuk daerah pendudukan Belanda. Sedangkan istrinya tertinggal di daerah republik, di Tretep, sebelah barat Candiroto. Selama Mahmud sembunyi di daerah pendudukan Belanda, sulitlah pasukan TRI (Tentara Republik Indonesia) melakukan pengejaran. Sebab kalau pasukan TRI memasuki daerah pendudukan Belanda berarti melanggar gencatan senjata. Maka untuk menangkap tokoh komunis yang berasal dari Pesindo itu, istrinya terpaksa diciduk untuk menjebak suaminya.

Istri Machmud diminta menulis surat kepada suaminya yang isinya minta agar dijemput di suatu desa tertentu. Surat tersebut disampaikan kepada Machmud lewat seorang pemuda desa yang sebelumnya sudah diberitahu bahwa tugasnya itu sangat rahasia, rencan penangkapan Machmud.

Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Machmud yang telah terpisah dari istrinya lebih dari satu bulan tampak gembira ketika menerima surat tersebut. Dengan dikawal oleh beberapa anak buahnya, Machmud berangkat menjumpai istrinya di desa yang telah ditentukan. Sementara itu, pasukan TRI siap menyambut dan bersembunyi di beberapa rumah sekeliling rumah tempat pertemuan Machmud dengan istrinya. Sebagian besar pasukan TRI yang lain bersembunyi di luar desa menjaga kemungkinan Machmud lolos.

Begitu Machmud turun dari atas kuda bersama beberapa anak buahnya, langsung disergap. Penyergapan itu sangat mendadak karena memang situasi di desa itu seperti biasa dan tidak tampak adanya anggota TRI. Tidak mencurigakan.

Seorang perwira muncul dan berteriak sambil mengacungkan senjata otomatisnya. Perintahnya, agar Machmud menyerah. Dari beberapa penjuru bermunculan pasukan TRI yang juga membidikkan senjata masing-masing. Machmud dan istrinya bersama beberapa anak buahnya menyerah. Setelah pemeriksaan mendalam, Machmud dan anak buahnya dijatuhi hukuman tembak mati. ***

 

Di tulis ulang oleh : Khudhori 

 

BACA JUGA :

SEJARAH PATUNG KUDA PUTIH DESA GENTINGGUNUNG (BAGIAN KE-1) 

SEJARAH PATUNG KUDA PUTIH DESA GENTINGGUNUNG (BAGIAN KE-3) 

SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 5)

SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 4)

SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 3)

SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 2) 

SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 1) 

SHALAT (Adzan dan Iqamah) 

SHALAT (Syarat Sahnya Shalat : 3) 

SHALAT (Syarat Sahnya Shalat : 2)

SHALAT (Syarat Sahnya Shalat : 1) 

SHALAT (Fungsi dan Hikmah Shalat) 

SHALAT (Hukum Meninggalkan Shalat) 

SHALAT (Arti dan Kedudukan Shalat) 

Tayammum 

Mandi 

Mengusap kedua khuf 

Pengertian dan Pembagian Ibadah 

Falsafah Ibadah 

Prinsip-prinsip Ibadah bagian 1 

Prinsip-prinsip Ibadah bagian 2 

Pengertian Thaharah 

Alat Bersuci 

Najis dan Hadats 

Wudlu 

Hal-hal yang Membatalkan Wudlu 

📚 Daftar Postingan