ALBUM PERJUANGAN
Jakarta “Buana Minggu” terbitan Minggu Wage, 8 Januari 1984
TJOKRO ALIAS NARUTO IKEGAMI EKS. TENTARA JEPANG BERJUANG PERTAHANKAN KEMERDEKAAN RI
Mencari jenazah Let. Sumantri korban dibunuh oleh PKI
OLEH : EDDY HARSONO – JAKARTA
BAGIAN KETIGA – HABIS
DIBENTUK TEAM KHUSUS DIPIMPIN OLEH LETNAN TAHER DENGAN ANGGOTA: TJOKRO DAN DELAPAN BEKAS TENTARA JEPANG -*- NAMA TJOKRO DISEGANI OLEH PASUKAN KELASYKARAN -*- BAU, STAF KELURAHAN ITU TAKUT MENUNJUKKAN KUBURAN LETNAN SUMANTRI KARENA ANCAMAN BALAS DRNDAM ASMOGIMUN DAN ANAK BUAHNYA -*- MONUMEN MEGAKI SIMATOYO UNTUK RAKYAT TEMANGGUNG -*- ANAK BUAH ASMOGIMUN YANG TERDIRI DARI BEKAS PENJAHAT DILUCUTI DAN ASMOGIMUN TERNYATA MENYIMPAN SENAPAN THOMPSON LETNAN SUMANTRI
Hilangnya Letnan Sumantri anggota Polisi Tentara dan Pengawal Panglima Besar Jenderal Sudirman sudah jelas karena dibunuh oleh gerombolan komunis (PKI) pimpinan Machmud. Tetapi dimana jenazahnya dimakamkan belum diketahui. Maka Letnan Taher komandan Polisi Tentara Temanggung (sekarang Inspektur Jendral Pembangunan di Bina Graha) mendapat periintah untuk mencarinya. Letnan Sumantri dibunuh bersama Letnan Suwaji komandan Polisi Militer Parakan, sedang Mayor Sakri yang ketika itu bersama pula, berhasil meloloskan diri. Kini Letnan Taher memanggil Tjokro untuk bersama membentuk satu team yang akan melacak dan mencari jenazah Letnan Sumantri. Pertunjukan atas diri Tjokro karena anggota TRI bekas tentara Jepang ini sangat dikenal dan disegani oleh berbagai kesatuan kelasykaran di daerah sekitar Temanggung.
Perlu diketahui disamping pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI) terdapat pula kesatuan-kesatuan laskar pejuang bersenjata lain yang bahu membahu menghadapi Belanda. Diantaranya adalah laskar bersenjata pimpinan Asmogimun yang sebagian besar anak buahnya terdiri dari bekas penjahat. Diduga keras, Asmogimun dan anak buahnya terlibat dalam pemberontakan PKI.
Letnan Taher memanggil Tjokro yang ketika sedang bertugas di daerah perbatasan ditakuti dan disegani oleh anak buah Asmogimun.
Team pencari pencari jenazah Letnan Sumantri dibentuk di kantor Polisi Tentara Temanggung terdiri dari sembbilan orang, yaitu Letnan Taher dan delapan bekas tentara Jepang yang dipiimpin oleh Tjokro; yang kebanyakan bukan dari TRI demi menghindari kecurigaan dikalangan anak buah Asmogimun. Team berangkat dengan mobil dari Temanggung menuju Candiroto, lalu Kecamatan Tretep dan dilanjukan dengan naik kuda sampai daerah perbatasan. Dengan perantaraan seorang pemuda desa, rumah Asmogimun ditemukan. Kebetulan orangnya ada di rumah. Kedatangan Tjokro dkk disambut hangat oleh Asmogimun, karena sudah sama-sama saling mengenal ketika bertugas di daerah itu. Tjokro bertanya kepada Asmogimun: “Apakah saudara Asmogimun tau siapa yang membunuh Letnan Sumantri dan dimana jenazahnya dikubur?” Asmogimun menjawab: “Wah saya tidak tau, siapakah Letnan Sumantri itu dan dimanakah dibunuhnya...” Didesak berulangkali dia tetap menyatakan tidak tahu menahu. Letnan Taher, Tjokro dkk meninggalkan rumah Asmogimun dan melanjutkan pencarian ke luar masuk desa. Mereka sampai di rumah seorang lurah, lalu turun dari kuda dan langsung bertanya. Tjokro menanyakan kepada lurah mengenai jenazah Letnan Sumantri. Lurah itu menjawab, yang tahu peristiwa pembunuhan tersebut adalah seorang Bau; anggota staf kelurahan, Tjokro meminta lurah memanggil Bau yang bersangkutan. Tetapi Bau itu takut menunjukkan kuburan Letnan Sumantri. Setelah didesak berulangkali akhirnya Bau itu bersedia menunjukkan kuburan perwira polisi tentara dari Yogyakarta tersebut dengan syarat, Asmogimun dan anak buahnya ditangkap lebih dulu. Ia takut pembalasan dendam Asmogimun dan anak buahnya. Letnan Taher kemudian berunding dengan Tjokro dkk. Bagaimana menangkap anak buah Asmogimun yang masih bersenjata dan tinggal terpencar-pencar di beberapa desa. Diputuskan sebelum menangkap Asmogimun terlebih dahulu menangkap anak buahnya.
Di daerah itu ada pasukan TRI yang dipimpin oleh Letnan Marhab (?). Letnan Taher bersama Tjokro kemudian menghubungi Letnan Marhab menjelaskan maksudnya. Serta merta Letnan Marhab siap membantu. Siasatpun lalu dilaksanakan Tjokro meminta anak buah Asmogimun berkumpul (tanpa membawa senjata) untuk mendapatkan briefing dari komandan polisi tentara Temanggung mengenai siasat menghasdapi tentara Belanda. Karena sudah mengenal Tjokro, mereka tidak curiga terhadap ajakan tersebut. Ketiak mereka sedang mendengarkan “Briefing” dari Letnan Taher pasukan Tri dibawah Letnan Marhab masuk ke tempat senjata mereka dan langsung menuju tempat briefing sambil menggertak: “Jangan bergerak. Kalau bergerak akan saya tembak.” Pelucutan senjata itupun berjalan lancar. Selanjutnya tim kembali ke rumah Asmgimun. Letnan Taher, Tjokro dan dua orang jepang masuk dari pintu depan, sedangkan lima orang Jepang lainnya masuk lewat pintu belakang. Asmogimun menerima Letnan Taher dan Tjokro dengan senyum, tanpa curiga.
Letnan Taher dan Tjokro kembali menanyakan soal jenazah Letnan Sumantri. Asmogimun tetap bungkam. Tapi setelah diberitahu bahwa semua anak buahnya sudah ditangkap, ia tidak bisa mungkir lagi, apalagi setelah seorang kawan Tjokro mmperlihatkan senjata Thompson milik Letnan Sumantri yang ditemukan dalam rumah Asmogimun.
Asmogimun mengaku telah membunuh Letnan Sumantri, Letnan Suwadji, dan beberapa pejabat sipil yang diculik dan ditangkap ketika terjadi pemberontakan PKI di Parakan.
Asmogimun terlibat langsung dalam pemberontakan PKI di Parakan. Akhirnya dia dihukum mati. Belakangan terungkap pula kebohongan Asmogimun. Untuk membujuk anak buahnya ikut PKI di Parakan, Asmogimun memberi tahu bahwa Tjokro dkk juga memihak PKI. Tjokro marah bukan kepalang mendengar fitnah ini, tetapi untung Asmogimun sudah dihukum mati. Andai kata masih hidup, Tjokro akan mencincang sendiri Asmogimun dengan samurai...
Siapakah Tjokro?
Dalam
buku sejarah militer Indonesia memang tidak perah disebut adanya orang-orang
Jepang yang ikut berjuang membela dan mempertahankan kemerdekaan R.I.
Tjokro alias Naruto Ikegami
lahir tahun 1919 di Kagoshima, Jepang adalah seorang prajurit Komando dari
tentara ke 16 Kerajaan Jepang di pulau Ceram untuk menjaga lapangan udara di
pulau itu selama perang dunia ke dua. Ia lulusan Nihon University. Ketika pecah
perang dunia II 1942 langsung direkrut dan karena sebelumnya sudah masuk kelas
militer.
Pada permulaan 1945 menjelang berakhirnya perang, Naruto sakit yang tidak mungkin bisa disembuhkan di rumah sakit Ambon. Ia terpaksa dibawa ke Jakarta, dan dirawat di rumah sakit tentara (RSPAD-Sekarang) selama tiga bulan. Setelah sembuh, Naruto dikirimkan ke Magelang.
Satu bulan tinggal di Magelang perang berakhir, jepang kalah. Semua pasukan jepang diperintahkan kembali keinduk pasukan masing2 dan selanjutnya menunggu angkutan untuk dikembalikan ke negaranya. Naruto pergi ke jakarta untuk mencari pesawat udara yang akan membawanya ke Ambon, untuk bergabung dengan induk pasukannya di daerah itu. Tapi usaha itu tidak berhasil, karena tidak ada pesawat terbang. Kemudian ia naik kereta api ke Bandung dengan maksud sama. Tiba di lapangan udara Andir, juga tidak ada pesawat yang berangkat ke Ambon. Dari Bandung ia naik kereta api menuju Surabaya dengan maksud sama. Usaha inipun gagal tidak ada pesawat. Akhirnya ia tahu, semua pesawat terbang Jepang dilarang terbang. Akhirnya ia kembali ke Magelang. Di Magelang Naruto mencoba bergabung dengan pasukan Jepang setempat tapi ditolak. Naruto adalah pasukan tempur, sedangkan pasukan Jepang yang ada di kota itu adalah pasukan pendudukan. Ia terpaksa harus hidup dan mencari makan sendiri.
Batalyon Migaki Shimatoyo sesama pasukan ke-16, dengan 533 tentaranya termasuk 30 orang sipil datang di Magelang dalam perjalanan kembali dari NTT menuju induk pasukannya di Birma. Naruto lalu bergabung dengan Batalyon ini.
Satu minggu berada di Magelang menunggu angkutan ke Birma, terjadi pertempuran di Semarang antara pemuda dengan tentara Jepang ppimpinana Mayor Kido. Terkenal dengan sebutan Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Untuk menghindarkan hal yang tidak diinginkan, pasukan BKR yang dipimpin oleh Kol. Bambang Sugeng kemudian menangkap dan melucuti pasukan Migaki Shimatoyo dan menawannya di kota Temanggung, sambil menunggu pengangkutan kembali ke negarannya. Perkembangan di Jepang setelah kalah perang ikut mempengaruhi pasukan Jepang di Indonesia. Berita tentang dilakukannya penangkapan oleh tentara Amerika terhadap orang Jepang anti Amerika, khususnya orang Jepang anggota organisasi Naga Hitam sampai di telingga mereka. Jepang, sehingga mereka ragu2 pulang ke negarannya. Naruto yang waktu it menjadi mahasiswa aktif di Naga Hitam memutuskan memilih tinggal di Indonesia aripada tertangkap oleh tentara Amerika. Ia menemui Kol. Bambang Sugeng, minta ijin tetap tinggal di Indonesia. Semula permintaanya ditolak. Setelah mendengar alasannya dan berunding dengan Mayor Migaki Shimatoyo, permintaan Naruto diterima.
“Saya masih ingat ketika Pak Slamet Suherman diutus oleh Kol. Bambang Sugeng untuk menjemput saya dengan mobil dari kamp tawanan dibawa ke markas BKR. Sambil menggambar senjata cakra, Naruto Ikegami diberi nama Indonesia Tjokro. Naruto Ikegami yang melihat ada gambar panah, dengan senang hati menerima pemberian nama dari Kol. Bambang Sugeng. Seko harinya beberapa orang kawannya menyusul ke markas BKR minta juga diijinkan tinggal di Indonesia. Mereka ada yang diberi nama Iskandar, Suro, Seno dll. Kemudian masuk BKR Temanggung” kata Tjokro.
Sejak Desember 1945 sampai September 1948 Tjikro alias Naruto Ikegami bertugas di Markas Resimen 18 Wonosobo, Bagian Siasat dibawah pimpinan Lerkol Slamet Suherman. Dari Desember 1948 sampai Desember 1949 menjabat Komandan Seksi 4, Kompi 22, Batalyon 6, Brigade 9, Divisi III. Tjokro masuk menjadi anggota pasukan Kuda Putih Brigade 9 pimpinan Letkol A. Yani.
Brigjen Purn Tjiptono Setiabudi yang banyak mengenal pribadi Tjokro menyatakan kepada penulis, dalam kariernya sebagai seorang militer, Tjokro lebih lama menjadi tentara Indonesia. Ia berjuang ddan mengabdikan dirinya kepada negara Indonesia lebih lama dari pada menjadi tentara Jepang dulu.
Atas jasanya dalam membantu perjuangan Tjokro mendapat anugerah dari Pemerintah berupa Bintang Gerilya (1958) dan Satya Lencana Perang Kemerdekaan Pertama dan Kedua (agresi Belanda I & II) dan Satya Lencana Gerakan Operasi Militer (GOM) Pertama (peristiwa pemberontakan PKI Madiun).
Tjokro alias Naruto Ikegami berwarganegara Indonesia dan sekarang tinggal di Jakarta mempunyai kegiatan usaha wiraswasta, ia mengatakan kalau meninggal duniaminta di kubur di Bumi Indonesia yang dicintainya.
Ketika menengok keluarganya di Tokyo, Naruto Ikegami berkampanye dan mengingkatkan orang Jepang yang masih hidup yang dulu pernah tinggal di Temanggung, khususnya bekas anggota Batalyon Migaki Shimatoyo, agar membantu pembangunan Monumen Bambang Sugeng dikota itu. Ia sendiri tekah menyerakhkan sumbangan uang sebesar Rp. 10 Juta.
Dalam kompleks monumen Bambang Sugeng itu akan dimasukkan pul abatu prasasti bertuliskan huruf kanji dan tiga kata bahasa Indonesia yang berbunyi: “Seloeroeh Doenia Sekeloearga”. Batu prasasti itu dibuat oleh Mayor Migaki Shimatoyo sebagai tanda terima kasih kepada rakyat Temanggung yang membantu makanan, obat2an dan perlakuan yang baik kepada para tawanan serdadu Jepang itu, sehingga mereka bisa selamat dan melanjutkan perjalanannya kembali ke negarannya.
Di tulis ulang oleh : Khudhori
BACA JUGA :
SEJARAH PATUNG KUDA PUTIH DESA GENTINGGUNUNG (BAGIAN KE-1)
SEJARAH PATUNG KUDA PUTIH DESA GENTINGGUNUNG (BAGIAN KE-2)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 5)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 4)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 3)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 2)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 1)
SHALAT (Syarat Sahnya Shalat : 3)
SHALAT (Syarat Sahnya Shalat : 2)
SHALAT (Syarat Sahnya Shalat : 1)
SHALAT (Fungsi dan Hikmah Shalat)
SHALAT (Hukum Meninggalkan Shalat)
SHALAT (Arti dan Kedudukan Shalat)
Pengertian dan Pembagian Ibadah
Prinsip-prinsip Ibadah bagian 1
