
ALBUM PERJUANGAN
Jakarta “Buana Minggu” terbitan Minggu Wage, 8 Januari 1984
TJOKRO ALIAS NARUTO IKEGAMI EKS. TENTARA JEPANG BERJUANG PERTAHANKAN KEMERDEKAAN RI
BAGIAN PERTAMA
EKS TENTARA JEPANG INI BUNTUNG TANGAN KANANNYA DAN BERISTRI WANITA INDONESIA(1946) -.- KORPS KOMANDO KEMBALI KE PANGKALAN DI TEGAL ALAMI KONTAK SENJATA DENGAN BELANDA -.- TJOKRO MEMIMPIN 15 ANAK BUAHNYA TERDIRI DARI PASUKAN YANG TERCECER DARI INDUKNYA -.- PATAH SEMANGAT KETIKA ANAK BUAHNYA KEMBALI KE INDUK PASUKAN -.- PAK YANI MENDENGAR ADANYA EKS-TENTARA JEPANG ITU DAN MEMANGGILNYA -.- DALAM SATU BULAN TJOKRO BERHASIL MEMBENTUK SATU PASUKAN YANG TANGGUH -.- BELANDA MENGENAL PASUKAN LETNAN TJOKRO SEBAGAI TENTARA SILUMAN
Pak Yani perintahkan untuk pasukan baru
OLEH : EDDY HARSONO - JAKARTA
Belanda melakukan pennyerbuan besar-besaran ke ibukota Indonesia Yogyakarta pada 119 Desember 1948 yang kita kenal sebagai aksi militer II. Yogyakarta jatuh dan para pemimpin; terutama politik, menjadi tawanan mereka. Pada hari itu pula serentak tentara Belanda melakukan penyerangan ke berbagai kota Indonesia, tak terkecuali Kota Temanggung mengalami bombardermen dan serangan dari udaraoleh dua pesawat tempur cocor merah. Para pelajar SMP Temanggung yang berasal dari luar kota meninggalkan asrama mereka di IPPI, kembali ke desa, termasuk penulis yang bersama seorang teman dari candiroto, berjalan kaki pulang ke Tarakan. Sejak itu, seperti melakukan satu komando...seluruh bangsa, rakyat, pemuda, pejuang kelasykaran dan tentara serentak bertekad mengemban kewajiban mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, dengan taruhan jiwa, raga dan harta.
Sesuai dengan pemerintah kilat panglima besar soedirman, semua pasukan yang ada di Kota Temanggung pada sore hari meninggalkan kota sebelum tentara Belanda datang. Selanjtnya perlawanan dilakukan secara gerilya atau perang semesta.sedangkan pasukan pendatang yang dulu hijrah ke daerah RI diperintahkan kembali ke daerah asalnya untuk melanjutkan perang gerilya ditempat masing-maisng.
Waktu itu di Kota Temanggung terdapat pasukan korps komando (marinier) dari korps armada IV Tegal yang dipimpin oleh letkol Suhadi dengan kekuatan beberapa batalyon yang dipimpin oleh mayor Ali Sadikin (terakhir menjabat Gubernur DKI) dan mayor Suwadji (terakhir menjabat Wapang Kowilhan III). Sedangkan Parakan pasukan korps komando dari korps armada IV Tegal, batlyon 174 pimpinan mayor Moh Junus. Semua pasukan komando dari korps armada IV diperintahkan kembali ke Tegal. Sebagian pasukan mengambil rute Batur (Dieng)-Bawang-Bandar terus masuk daerah Pekalongan. Sebagian lagi melawati Batur (Dieng)-Kalibening(Banjarnegara)-Waktukumpul-Bantarbolang ke barat masuk daerah Tegal. Dalam perjalananya kembali ke pangkalan tersebut sering bentrok dengan pasukan Belanda.
Mayjen Suwadji berccerita kepada penulis, ia bersama dengan anak buahnya setibanya di daerah Kalibening melakukan kontak senjata dengan pasukan KNIL yang sedang patroli. Semua pasukan KNIL itu ditembak mati dan senjatanya dirampas.
Sementara itu di Temanggung juga terdapat pasukan lokal yang dipimpin oleh Mayor Salmun, dan tentara pelajar Brigade XVII pimpinan Sutarto. Mereka juga eninggilkan kota sebelum pasukan Belanda yang berkedudukan di Sumowono 35 km dari Temanggung, menduduki kota. Di kota ini juga terdapat 8 orang bekas tentara Jepang yang sejak perang dunia ke II berakhir 1945 masuk BKR/TKR yang dipimpin Kol. Bambang Sugeng. Mereka berganti nama Indonesia : Tjokro, Seno, Suro, Iskandar dll. Diantara mereka yang paling menonjol adalah Tjokro alisa Naruto Ikegami yang buntung tangan kananya.
Pada akhir Desember 1948 penulis bertemu dengan Tjokro di Desa Garung, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo. Tjokro mengenakan peci hitam, kacamata hitam dengan pistol dengan pistol di pinggul sebelah kiri memimpin sekitar 15 prajurit Indonesia. Mereka sedang istirahat. Meski hanya dengan beberapa senjata panjang, pasukan kecil yang dipimpin Tjokro ini sering menghadang patroli KNIL dari Wonosobo. Mereka menyerang selalu bergerak dari satu desa ke desa lainnya dengan tsktik serang dan lari. Dengan demikian mereka bisa menghindari kemungkinan terjadinya penyergapan mendadak oleh Belanda. Dari desa-desa dari lereng Gunung Sumbing, pasukan Tjokro menyebrangi jalan raya Tarakan-Wonosobo menuju ke utara masuk ke pedesaan di kaki Gunung Sindoro sampai tiba di desa Jumprit, Kecamatan Ngadiredjo. Dari Jumpri ergerak ke utara sampai didaerah Sukoredjo dan kemudian naik kedaerah Bawang untuk kemudian turun lagi ke daerah Wonosobo dan selanjutnya ke utara lagi.
Sementara itu pasukan Belanda yang menduduki Kota Parakan merasakan jengkel, karena hampir setiap malam diganggu oleh gerilya kita yang berpangkalan dibeberapa desa dikaki gunung sumbing.
Dengan bantuan pasukan KL dari Magelang, KNIL di Parakan menggobrak-abrik pedesaan dikaki Sumbing, disebelah Parakan untuk mencari dan menghancurkan pangkalan gerilyawan.
Beberapa hari gagal menemukan persembunyian pasukan gerilya, Belanda memindahkan operasi di dessa-desa di kaki Sindoro. Belanda mengira para gerilyawan lari dari kaki Sumbing pindah pedesaan di kaki Sindoro.
Sementara itu pasukan Tjokro setelah terlibat dalam kontak senjata dengan salahsatu pasukan Belanda yang bergerak dijalan raya Parakan-Ngadiredjo, kemudian langsung menuju ke utara ke desa Jumprit. Tetapi karena anak buah Tjokro sebenarnya terdiri para pejuang yang sedang berpisah dari induk pasukan, maka di desa ini ternyata mereka jumpa dengan induk pasukan masing-masing. Tjokropun terpaksa melepasskan anak buahnya kembali ke induk pasukan masing-masing, sampai akhirnya ia tinggal memiliki lima anak buah, itupun tanpa memiliki senjata. Pasukan tidak berarti lagi. Ia patah semangat dan menganjurkan agar lima anak buahnya itu mencari induk pasukanya sendiri. Tjokro memutuskan diri untuk tinggal di Jumprit. Suminah, istrinya yang anak Kedu menyusulnya, mereka kawin pada 1946.
Pada suatu ketika komandan Brigadir 9 yakni letkol Achmad Yani sedang mengeadakan inspeksi pasukan dipasukan wilayah di daerah Ngadiredjo. Pak Yani mendengarkan kabar bahwa di Jumprit ada pejuang bekas tentara bernama Tjokro. Mak Letnan Suprapto, ajudan Pak Yani diperintahkan mencari Tjokro. Selanjutnya diperintahkan menghadap komandan Brigadir 9. Bertepatan dengan itu Pak YAni seang mengadakan reformasi pasukan. Tjokro diperintahkan membentuk pasukan baru, yakni seksi 4, bagian dari kompi 22, batalyon 6, brigadir 9, devisi 3 berkedudukan di Kecamatan Tretep utara Ngadiredjo. Tjokro mendapat promosi pangkat, Letnan. Anak buahnya sebagian besar yang menjadi inti adalah para pemuda pejuang dari Ngadiredjo sendiri yang juga sudah perang melawan Belanda. Sejak aksi militer Belanda pertama (clash I). Dalam satu bulan Tjokro melatih anak buahnya secara serius. Tjokro bangkit lagi semangatnya apalagi mendapat persenjataan lengkap dan sebuah senapan mesin juki (watermantel). Pasukan seksi 4 ini sering kontak senjata dengan tentara Belanda yang mengadakan operasi di Ngadiredjo.
Pada suatu hari pasukan Tjokro tersebut bertemu dengan pasukan yang dipimpinoleh Letnal Sumar di Desa Pitrosari, yakni pasukan pengawal batalyon 6. Mayor Bintoro selaku komandan Batalyon 6 minta Tjokro dan anak buahnya sementara waktu tinggal dideaa tersebut. Tentang bekas tentara jepang yang buntung tangannya itu, Mayben Purn. Bintoro(terakhir menjabat wapang kowilhan IV Maluku-Irian) menceritakan, suatu ketika melihat Tjokro membawa senapan mesin (watermantel). Pada waktu kedudukan markas batlyon 6 diserbu oleh Belanda, Tjokro dan pasukannya juga ikut mempertahankan desa tersebut. “pasukan Tjokro lama di desa itu” kata Mayjen Purn. Bintoro.
Dalam pertemuan yang hampir 3 jam itupasukan Belanda dipukul mundur oleh pasukan pengawal pimpinan Letnan Sumar dan pasukan seksi 4 pimpin pasuka Tjokro. Belanda membawa kawan mereka yang tewas dan luka dengan rigen (tempat menjemur tembakau dari bambu) kembali ke Parakan.
Tjokro dengan pasukan dengan bersenjata lengkap tetap bergerak dari desa ke desa. Akibatnya banyak laskar bejuang bersenjata menggabungkan diri. Diantaranya pasukan kiai mastur dari Weleri dan pasukan bekas anak buah Asmogimun yang dikenal dengan “pasukan bajingan”; sebagian besar anggotanya bekas penjahat yang telah insyaf untuk berjuang melawan Belanda sejak agresi pertama.
Dengan demikian jumlah pasukan Tjokro tersebut melebihi satu seksi. Beberapa hari pada Pitrosari, Tjokro minta ijin Mayor Bintoro untuk bergerak ke utara didaerah Sukorejo dan Plantungan. Kebetulan didaerah itu sudah ada pasukan kompi 22 pimpinan kapten Tjiptono Setia Budi. (tahun 70-an pernah menjabat komandan korm 071/wijaya kusuma, pangkat kolonel).
Hampir setiap malam pasukan kompi 22 dan seksi 4 mengadakan serangan. Seksi 4 pimpinan Letnal Tjokro mengadakan serangan ke markas Belanda.
Pasukan seksi 4 pimpinan Letnan Tjokro alias Naruto Ekagami tersebut oleh Belanda di Sukorejo dan Plantungan dianggap sebagai pasukan setan. Malam hari menyerbu kota dan siang hari mereka menghilang. Akhirnya persembunyian pasukan Tjokro di Pikatan tercium oleh Belanda. Tapi sebelum Belanda berhasil mendekati desa Pikatan, sudah dihadang diluar desa. Pasukan Tjokro mengadakan steling ditempat agak ketinggian. Dua truk pasukan KNIL kucar-kucir digempur dari atas tebing dan Belanda mengundurkan diri, membawa kawananya yang tewas dan luka-luka. Beberapa kali Belanda berusaha mendekati Pikatan, tapi selalu gagal. Lebih-lebih setelah pasukan seksi 4 mendapatkan bantuan ;pasukan kompi 22 pimpinan Kapten Tjiptono yang memiliki mortir.
Brigjen Purn Tjiptono Seta Budi beberapa waktu lalu di Semarang mengenai bekas tentara Jepang yang buntung tanganya berkata “Alm Pak Yani tahu betul siapa Tjokro itu dan sampai seberapa jauh jasanya dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia...”
Pada waktu batalyon 6 mendapat tugas serangan umum terhadap Kota Parakan, Tjokro dan anak buahnya tak ketinggalan.
Dalam buku” Agresi ke II “ karangan Jendral A.H Nasuition ditulis AL. Pasukan kompi Sukarno yang mengadakan serangan umum atas Kota Parakan itu berhasil menawaskan beberapa tentara Belanda, sedangkan pihaknya hanya kehilangan sebuah senapan mitraliur. Senapan mitraliur yang dimaksud adalah waktermantel atau kalau dalam bahasa jepang disebut “ Juki”.
Mengenai jalannya serangan umum tersebut, Majen Purn. Bintoro yng dulu menjabat Komandan Batalyon 6 menuturkan kepada penulis bahwa sebenarnya kekuatan pasukan Batalyon 6 itu hanya teriri dari tiga kompi. Maisng0masing dipimpin Kapten sukarno, Kapten Tjiptono Setiabudi dan Kapten Istanto.
Penulis masih ingat betul ketika pada tanggal 16 Januari 1949 sore sekitar jam 15.00 di desa Bansari, lebih kurang 10 Km sebelah barat kota Parakan diadakan pembicaraan mengenai rencana serangan umum tersebut yang dipimpin Mayor Bintoro.
Persiapan serangan umum itu agak terganggu, karena kurir dari pasukan kompi Istanto sampai jam 10.00 malam belum juga datang untuk memberi kepastian mengenai tugasnya melakukan serangan dari arah timur. Karena ditunggu-tunggu sampai jam 12.00 belum juga dtang, maka Mayor Bintoro memutuskan bahwa akan yang akan memimpin pasukan dari timur adalah dia sendiri dengan pasukan yang sebenarnya bukan orang lapangan melainkan orang staf. Tugas pasukan ini memancing dan mengalihkan perhatian Belanda ke timur.
Dengan diikuti beberapa orang anak buahnya, Mayor Bintoro masuk kota Parakan dari arah timur dan berhasil mencapai halaman kantor kawedanan. Terjadi tembak menembak sengit dengan pasukan Belanda yang menjaga kota. Tampaknya pasukan Kompi Sukarno dan Kompi Tjiptono agak terlambat masuk, hal ini dibuktikan belum adanya suara tembakan dari arah barat. Mayor Bintoro yang terkenal berani dan selalu berada di barisan paling depan dalam pertempuran itu tertembak kakinya.
Di tulis ulang oleh : Khudhori
BACA JUGA :
SEJARAH PATUNG KUDA PUTIH DESA GENTINGGUNUNG (BAGIAN KE-2)
SEJARAH PATUNG KUDA PUTIH DESA GENTINGGUNUNG (BAGIAN KE-3)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 5)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 4)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 3)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 2)
SHALAT (Tata Cara Shalat Nabi SAW : 1)
SHALAT (Syarat Sahnya Shalat : 3)
SHALAT (Syarat Sahnya Shalat : 2)
SHALAT (Syarat Sahnya Shalat : 1)
SHALAT (Fungsi dan Hikmah Shalat)
SHALAT (Hukum Meninggalkan Shalat)
SHALAT (Arti dan Kedudukan Shalat)
Pengertian dan Pembagian Ibadah
Prinsip-prinsip Ibadah bagian 1
Prinsip-prinsip Ibadah bagian 2
Hal-hal yang Membatalkan Wudlu